Antara Aku, Kau dan Simbok..........
" Insya Allah Mbok.."
"Lha aku piye sing arep ngomong karo bojomu wong boso Indonesia wae ora jegos opo meneh boso sundo"
"Nggih mengko kulo ajarane Boso Jawi Mbok"
"Jare wong wedok sundo kiy senenge dandan lan jajan wae Le"
"Nopo nggih tho Mbok..? Ngendikanipun sinten..?"
"Lha kae...Bu Ratno cerito akeh babagan mantune sing soko Sundo"
"Nyuwun pangestunipun nggih Mbok, mugi mugi calon semah kulo mangke mboten mekaten"
"Opo yo ora ono konco sekolahmu jaman SMA opo konco ndeso sing mbok senengi tho Le,..?"
"Sakjanipun nggih wonten, nanging kulo mboten wantun amargi putrinipun 'priyayi ageng'
"Lha yo ojo keduwuren, seneng bocah wedok sik anakke wong biasa wae tho, wong kowe juga mung anakke bakul soto tho, Opo calonmu wong sundo kuwi anakke penggede..?"
"Mboten koq Mbok, Bapakipun namung ngasto wonten swasta, kulo nyuwun pangestunipun nggih Mbok.."
"Yo wis karepmulah...aku mung ngelingke wae"
Setiap bulan Desember percakapan dengan Simbok kembali terngiang, percakapan manakala minta ijin untuk berumah tangga dalam rangka menyempurnakan setengah dari ajaran agama. Keinginan berumah tangga sudah ada sejak lulus kuliah, meski hanya kuliah di Program Diploma III. Dari berbagai diskusi dan seminar yang aku datangi semasa kuliah ternyata menikah di usia muda sangat banyak sisi positifnya.
Namun keinginan tersebut harus aku tahan kuat kuat karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, salah satunya karena ada kakak laki laki yang belum menikah. Setelah 2 tahun bertugas di bumi cendrawasih keinginan untuk berumah tangga semakin kuat dan akhirnya dengan mengucap Bismillahirrohmanirrohim berani minta ijin kepada orang tua, terutama Simbok.
Dengan latar belakang hanya kelas 1 SR, informasi yang diterima oleh Simbok tentang wanita sunda sangat tidak berimbang, dan kalau aku mau menjawab bahwa banyak wanita suku jawa yang "tidak benar" akan bisa membuat suasana semakin tidak kondusif menjadi kontra produktif.
Bapak dalam pesan surat suratnya semasa kuliah dulu selalu berpesan jangan sampai membuat kecewa orang tua, jangan sampai membuat malu orang tua. Karena tidak ingin dicap sebagai anak yang membuat kecewa orang tua akhirnya argumen bahwa dimata Allah bukan suku yang dilihat akan tetapi nilai ketaqwaannya tidak aku ungkapkan kepada Simbok.
Bapak selalu berpesan agar kami semua anaknya menjunung tinggi rasa hormat kepada orang tua lebih lebih kepada Ibu, karena Ibu yang susah payah mengandung, melahirkan,menyusui,merawat dan mendidik kami. Ibu adalah sekolah pertama bagi kami, begitu kuat pesan Bapak kepada kami semua.
<p>“Dan telah Kami wasiatkan kepada manusia (agar dia berbakti) pada kedua orang tuanya, ibunya telah mengandungnyadalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun,</p><p>bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (QS. Luqman 14)</p>
Aku tidak berani melangkah lebih jauh ke pernikahan manakala "signal" dari orang Simbok tidak ada, karena apabila mereka tidak ridho maka bisa jadi Allah pun tidak akan meridhoi perbuatan kita, hal ini sejalan dengan sabda kanjeng Rosul Muhammad SAW bahwa Ridho ALLAH tergantung kepada ridho orang tua, : "Ridho ALLAH tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka ALLAH tergantung kepada kemurkaan orang tua" (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim)
Dan tanpa terasa pernikahan dengan "wanita sunda" pada 18 Desember 1994 sudah memasuki tahun ke 16,komunikasi simbok dengan istriku juga lancar karena meski dengan bahasa jawa yg terbata bata beliau bisa menerima, mengajari tata krama dan budaya jawa hingga mengajari bagaimana memasak botok petai cina kesukanku. Sehingga hal hal yang ditakutkan perihal wanita sunda bisa hilang dengan sendirinya tanpa perlu Aku berdalil dengan beliau.
Simbok yang telah mengajari pentingnya kerja keras
Simbok yang telah mengajari pentingnya sekolah
Simbok yang senantiasa setia menunggu anak menantunya melahirkan
Simbok yang senantiasa memberi hadiah manakala anak menantunya datang untuk lebaran
Simbok yang selalu menanamkan nilai kejujuran
Simbok yang selalu menanamkan nilai keikhlasan
Simbok yang telah memberi contoh tentang arti sebuah KESETIAAN
Simbok semoga Allah menempatkan jasadmu bersama orang orang soleh dan mengangkat derajatmu di sisi Allah, maafkan kami yang selama ini telah banyak membuat dirimu kecewa, maafkan kami jika selama ini banyak hal hal yang tidak kami sadari telah melukai hatimu
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah
Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…ibu…ibu….
(Iwan Fals)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar